Kamis, 01 Maret 2012

Keutamaan Berdo’a || waiman Cakrabuana

Inilah Firman Allah Ta'ala dan Sabda Rasul yang memuat keutamaan berdo'a [1]:
Firman Allah Ta’ala :

وقال ربكم اعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين  ( المؤمن : 60 )

Dan robmu berfirman : Berdo’alah kepada-KU niscaya akan KU perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang orang yang menyombongkan diri dari menyembahku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina. ( QS Al Mu’min : 60 )

Dan firman Allah yang lain :

وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعاني فايستجيبوا لي وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون 

Dan apabila hamba hamba KU bertanya kepadamu tentang Aku maka jawablah,bahwasanya Aku adalah dekat Aku mengabulkan permohonan orang orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahku dan hendaklah mereka beriman kepadaku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ( QS Al Baqoroh : 186 )

Nabi bersabda :

ألدعاء هو العبادة قال ربكم أدعوني أستجب لكم

Do’a adalah ibadah. Rob kalian telah berfirman : Berdo’ala kepadaku niscaya Akan Ku perkenankan bagimu .  ( Abu dawud 2/ 78, At Tirmidzi 5/ 211, Ibnu Majah 2/ 1258 )

Nabi juga bersabda :

إن ربكم تبارك وتعالى حيي كريم يستحيي من عبده إذا رفع يديه إليه أن يرد هما صفرا .

Sungguh, Rob kalian Maha pemalu dan pemurah.Ia malu kepada hambaNya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepadaNya, jika Ia mengembalikan kedua tangannya itu dalam keadaan kosong  ( tidak di kabulkan Doanya )

( HR Abu dawud  2/ 78, At Tirmidzi 5/ 557, Ibnu Majah 2/ 1271  Ibnu hajar mengomentari : sanadnya jayyid )

Nabi juga bersabda :

ما من مسلم يدعوا الله بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث إما أن تعجل له دعوته وإما أن يدخرها له في الأخرة وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها قالوا إذا نكثر قال الله أكثر

Tidaklah seorang muslim berdo’a kepada Allah dengan permintaan yang di dalamnya tidak terdapat dosa atau permutusan silatr rohim kecuali Allah pasti memberikan kepadanya, karena do’a itu sala satu dari tiga Hal : Bisa jadi Allah segera mengabulkan do’anya itu, atau Dia menyimpan do’a untuknya di akherat atau Dia menghindarkannya dari keburukan yang sebanding dengan do’anya  Para sahabat berkata : jika demikian kami akan memperbanyak do’a. Beliau bersabda : Allah lebih banyak lagi pemberiannya.

( HR At Tirmidzi 5/ 566, dan 5/ 462, Ahmad 3/ 18 )
_____________________
[1] Dikutip dari Kitab "Ad-Du'a Wa yaliihil Ilaaj Biruqo Minal Kitabi Wassunati", karya Said Ali Bin Wahab Al-Qohthoni, hal. 6-7
»»  SELENGKAPNYA...

Selasa, 28 Februari 2012

>> PENGERTIAN DO'A || waiman cakrabuana

Dalam Al-Qur'an Lafadz Do'a dalam berbagai derivasi (turunannya) digunakan dalam berbagai arti, diantaranya:

a. IBADAH / MENYEMBAH

Dan jangan kamu berdoa (menyembah) selain Allah, sesuatu yang tidak memberi manfaat dan mudharat kepadamu...
(Surah Yunus ayat 106)

b.  MEMINTA

 ...mintalah kepadaKu, akan Ku perkenankan pintamu...
(Surah Al-Mukmin ayat 60)

c. Memohon pertolongan

...dan minta tolonglah kepada saksi-saksimu (sekutu-sekutumu) selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.
(Surah Al-Baqarah ayat 23)

d. Pujian

Katakanlah Pujilah Allah atau Pujilah Ar-Rahman...
(Surah Al-Isra' ayat 110)

e. Ucapan

Ucapan mereka didalamnya ialah : Sunhanallah (QS Yunus ayat 10)

f. Seruan / panggilan

Yaitu pada hari DIa memanggil kamu...(Surah Al-Isra' ayat 52)

 
Maka atas dasar uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa "doa" adalah ucapan permohonan dan pujian kepada Allah SWT. dengan cara-cara tertentu disertai kerendahan hati untuk mendapatkan kemaslahatan dan kebaikan yang ada disisi-Nya. Atau dengan istilah Al-Tîbî seperti dikutip Hasbi Al-Shidiq "do'a" adalah "Melahirkan kehinaan dan kerendahan diri serta menyatakan kehajatan (kebutuhan) dan ketundukan kepada Allah Swt."
»»  SELENGKAPNYA...

Selasa, 21 Februari 2012

Taubat itu Indah || waiman cakrabuana

Kadang kadang musibah/ kesulitan itu adalah TEGURAN, jika mengenai hamba Allah yang shaleh, harapanya dengan teguran itu ia mau sadar akan kesalahannya dan kembali bertaubat kepada Allah SWT . 
Firman Allah SWT : 
“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shaleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS 7/168)
Ooo
 Bahkan dengan kesalahan yang diperbuatnya, jika ia mau bertaubat, bukanlah keburukan baginya tetapi kebaikan dan keberuntungan baginya, firman Allah: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An-Nur 31)

Ibnu athailah berkata: 
MAKSIAT (DOSA) YANG MENIMBULKAN RASA RENDAH DIRI dan RASA MEMBUTUHKAN RAHMAT ALLAH,,,, LEBIH BAIK DARIPADA PERBUATAN TAAT YANG MEMBANGKITKAN RASA SOMBONG , DAN RASA BANGGA DIRI [kutipan Al-Hikam]
»»  SELENGKAPNYA...

Doa Kifarat Majelis || waiman cakrabuana

Firman Allah SWT:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS 4/114)

Majelis atau pertemuan apapun “tidak akan menjadi kebaikan” jika tidak memuat salah satu dari 3 hal:
1-  Anjuran bersedekah -> pengelolaan ekonomi dan kesejahteraan umat
Bersedekah adalah mengeluarkan sebagian hartanya untuk semata-mata mencari ridha Allah SWT. Bersedekah itu ada yang sunnat hukumnya (QS 2/271, 57/18) ada juga yang wajib hukumnya seperti zakat, infaq (QS 9/103), mas kawin / mahar (QS 4/4), Fidyah (QS 2/196) dan lain lain.

Termasuk pertemuan dalam rangka memberi “anjuran bersedekah” juga adalah pertemuan agar kita (umat), berdaya upaya dan berusaha mencari penghasilan agar bisa bersedekah.

Pertemuan yang memuat didalamnya “anjuran bersedekah” berarti pertemuan dalam rangka:
a-  Mencari dan mengusahakan sumber sumber penghasilan yang halal
b-  Mengelola harta yang telah dicari dan diusahakan
c-  Menyalurkan harta dengan berkah agar bernilai sedekah

2-  Perintah berbuat kebaikan (ma’ruf) -> Pengelolaan Program Umat
Pertemuan yang didalamnya berisi anjuran agar berbuat kebaikan dan terhindar dari kemungkaran adalah pertemuan yang berilai Khair (baik dan berkah) disisi Allah.

Pertemuan yang memuat perintah atau anjuran berbuat ma’ruf (kebaikan) adalah pertemuan yang membicarakan program-program umat islam dalam rangka meraih ma’ruf yang paling besar yaitu “mardhatillah sejati”. Adalah program dalam rangka: memerdekakan umat/rakyat dari penjajahan manusia, yaitu dari hukum-hukumnya yang menjerat leher dan merantai kaki.

3-  Mengadakan Ishlah (Perbaikan) -> Pengelolaan sumber daya manusia
Pertemuan yang dilakukan untuk mengadakan perdamaian, menjauhkan dari pertengkaran, perpecahan dan perseteruan sesama umat Islam.

Mengadakan ishlah berarti, pertemuan yang dilakukan agar umat yang menjadi sumber daya Insan (rijal) bagi teraihnya mardhatillah ini menjadi cukup dan cakap dalam menunaikan tugas pengabdiannya.


Pertemuan seperti inilah yang bernilai kebaikan, diluar itu, tidak memiliki nilai kebaikan disisi Allah SWT.
Ooo



Dan agar pertemuan tersebut bernilai lagi, maka ada baiknya jika dipungkas dengan do’a sebagaimana dicontohkan Rasulullah. Do’a dalam rangka menutup forum atau majelis pertemuan yang baik. Do’a ini juga sering disebut dengan istilah doa Kifarat majelis / Doa penghapus dosa/kesalahan dalam bermajelis.




Artinya: ”Maha suci Engkau Ya Allah dengan segala puji bagimu. Aku bersaksi tidak ada Ilah (Tuhan) selain Engkau, Aku memohon ampunan dan taubat kepada-Mu” (HR Thabrani RA dan Hakim RA)

Semoga pertemuan kita menjadi barokah.


wallahu a'lamu bishowwab
wassalamu alaikum

waiman cakrabuana
»»  SELENGKAPNYA...

Minggu, 19 Februari 2012

:: Memohon Ampunan || waiman cakrabuana

Memohon Ampunan

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.  
(QS. Al-A'raf: 23)

Ini adalah do'a yang sangat populer, yang awalnya dipanjatkan oleh Nabiyullah Adam AS. Do'a, memohon agar Allah SWT mau mengampuni dan menyayangi diri karena kealfaan atau kedzaliman yang telah dilakukannya.

Nabi Adam AS dan istrinya Siti Hawa diperintahkan Allah tinggal di Jannah, dipersilahkannya keduanya untuk mengkonsumsi apapun yang tumbuh di Jannah, tetapi Allah menecualikan satu pohon agar "jangan didekati" (QS 7/19).

Rupanya setan menemukan celah untuk merayu Adam AS dan Siti hawa, ia seakan akan tampil sebagai advisor (penasehat) yang tulus, ia katakan kepada Adam AS dan Siti Hawa bahwa: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)". (QS 7/20). Tidak ketinggalan, setan membumbui tipuannya dengan bersumpah, Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua", (QS 7/21)

maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (QS 7/22)

Teguran keras dari Allah SWT kepada Nabi Adam AS dan Siti Hawa  menyadarkan keduanya bahwa ia telah ditelanjangi setan dengan tipu daya dan bujuk rayunya yang berbisa. Maka dengan penuh penyesalan dan harapan besar diampuni dan dirahmati Allah SWT mulailah Adam AS berdo'a dengan redaksi do'a seperti diatas.

Oo
Manusia yang baik bukanlah manusia yang tampil tanpa kesalahan karena itu mustahil. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap anak Adam itu mempunyai banyak kesalahan dan sebaik-baik orang yang mempunyai banyak kesalahan ialah orang-orang yang banyak bertaubat." (Hadits Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah). Jadi orang baik itu bukan orang yang tidak pernah salah tetapi orang yang mau bertaubat jika menyadari telah berbuat salah. 

Allah juga memberi sifat muttaqin bukan bagi orang yang steril dari berbuat salah, tetapi orang yang mau kembali bertaubat jika telah berbuat salah.  "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS Ali Imran (3) ayat 135)

Allah Maha Rahman dan Rahim... Kesalahan atau dosa manusia bisa berbuah pahala dan keberuntungan , jika ia mau bertaubat. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (QS. An-Nur  31). Dan Allah menghendaki untuk menerima taubat kalian.” (QS. An Nisaa’: 27).

“Dan orang-orang yang mengerjakan dosa-dosa kemudian bertaubat sesudahnya dan beriman maka sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengampun dan Penyayang.” (QS. Al A’raaf: 153)

Tetapi, ALLAH SWT juga Maha PEMBERI ADZAB YANG KERAS... kesalahan atau dosa manusia bisa berbuah adzab  dan kehinaan , jika ia tidak mau bertaubat. Maka hendaknya orang-orang yang menyalahi perintah Allah takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih. (An-Nur: 36).
 
“Wahai kaumku, minta ampunlah kepada Tuhan kalian kemudian bertaubatlah kepada-Nya niscaya akan dikirimkan kepada kalian awan dengan membawa air hujan yang lebat dan akan diberikan kekuatan tambahan kepada kalian, dan janganlah kalian berpaling menjadi orang yang berbuat dosa.” (QS. Huud: 52)


Billahi Fisabililhaq
wassalam


waiman cakrabuana
lembah biru
»»  SELENGKAPNYA...

Jumat, 17 Februari 2012

:: Memohon kekuatan DZIKIR, Syukur dan IBADAH || waiman cakrabuana

Doa Kita hari ini:

اللهم أعني على ذكرك وشكرك، وحسن عبادتك
“Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika’"

Artinya: " Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu"

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz, “Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah kamu lupa untuk membaca doa di setiap akhir shalat: ‘Allahumma a’innii ‘ala dzikrika wa syukrika, wa husni ‘ibaadatik.’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu).” (HR. An Nasa’i [1303]  dan Ahmad [21614]  Sahih Sunan Abu Dawud. )

Ooo

Sesungguhnya Allah SWT telah mengkaruniai kita dengan berbagai nikmat yang dengannya kita dapat hidup (hayah) dan mendapat hidaYAH .  Dan seandainya kita sudi menghitung-hitungya, pasti tidak akan terhitung . Firman Allah: “Jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak dapat menghitung jumlahnya.” (QS.An-Nahl :18 dan QS.Ibrahim : 34)

Diatas hamparan karunia nikmat Allah itu, maka selayaknya kita berterimakasih kepada Sang Pemberi Nikmat.  Walaupun ungkapan rasa terimakasih kita kepadaNya, dengan gaya dan daya apapun,  sebenarnya tidak akan sanggup membalas nikmat yang diberikan.  Berkata Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata Nabiyullah Daud ‘Alaihis Salam: “Wahai Rabbku, kalau seandainya setiap rambutku ini mempunyai dua lidah dan bertasbih kepadaMu sepanjang malam, siang dan masa, maka tidaklah memenuhi hak satu kenikmatan.” (‘Iddatu Ash-Shabirin Libnil Qayyim hal 206, Asy-Syukur Libnu Abi Dunya hal 25, Asy-Syu’ab Lilbaihaqi dishahihkan Syaikh Salim I’ed Al-Hilali wafaqahullah)

Allah SWT juga berfirman: Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’" [ Yunus : 58]

Ungkapan terimakasih itulah yang disebut dengan istilah SYUKUR. Firman Allah Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS Ibrahim ayat 7). Dengan bersyukur,  Allah jamin dengan tambahan nikmat dariNya.

Ibnul Qayyim menjelaskan: “Syukur itu bisa dilakukan oleh HATI dengan tunduk dan kepasrahan oleh LISAN dengan mengakui ni’mat tersebut dan oleh ANGGOTA BADAN dgn ketaatan dan penerimaan.” 



:: BERSYUKUR DENGAN HATI ::

Suasana jiwa orang yang bersyukur adalah suasana jiwa yang senang dan gembira. Gembira menerima nikmat Allah yang denganya ia mampu menjalani hidup dan menempuhi hidayah. Dia meyakini bahwa nikmat ini adalah mutlak pemberian dari Allah SWT, walaupun dihantarkan melalui makhluqNya.

I’tiraf (pengakuan) kepada Allah sebagai Pemberi nikmat dan Busyrah (bergembira) ini adalah dua cara BERSYUKUR  (berterimakasih) KEPADA  ALLAH dengan Hati.

[=] I’tiraf (pengakuan)  [=]  Lihatlah Baginda Nabi Sulaeman disaat mencapai kenikmatan besar berupa kekayaan melimpah dan Kerajaan yang kuat. Nabiyullah Sulaeman tidak mengklaim bahwa ini adalah semata hasil karya dirinya . tetapi Nabi Sulaiman a.s. berkata,“Ini adalah bagian dari karunia Allah, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur.” (An-Naml: 40). Inilah contoh hamba Allah yang pandai bersyukur.

Sebaliknya, Qarun  adalah contoh orang yang kufur nukmat, Ketika Qarun mendapatkan harta yang sangat banyak, dia mengatakan, “Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali dari hasil kehebatan ilmuku.” (Al-Qashash: 78).

[=] Busyrah (bergembira) [=] Allah SWT berfirman: Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’" [ Yunus : 58]

Sungguh Syukur itu menghadirkan jiwa yang gembira, senang dan optimis. Sebaliknya orang yang kufur nikmat itu menghadirkan jiwa yang kurang bergembira, sedih dongkol dan lain lain. Sehingga orang yang pandai bersyukur itu, jika diberi musibah bukannya larut dalam kesedihan yang panjang, tetapi ia bersabar yang melahirkan keteguhan dan memohon tolong kepada Allah.

Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-NYAlah kamu meminta pertolongan."( QS. An-Nahl (16) : 53 )

Termasuk kurang pandai bersyukur, jika ketika mendapat nikmat ia merasa dimulyakan (bergembira) dan jika mendapat musibah ia merasa dihinakan (sedih). “Adapun manusia, apabila Rabbnya menimpakan ujian kepadanya dengan memuliakan dan mencurahkan nikmat kepadanya maka dia mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakanku’. Dan apabila Dia mengujinya dengan membatasi rezkinya niscaya dia akan mengatakan, ‘Rabbku telah menghinakanku’. Sekali-kali bukan demikian…” (QS. al-Fajr :15-17)

Bersyukur dengan hati ini adalah hakikat daripada syukur itu sendiri.


:: BERSYUKUR DENGAN LISAN. ::

Setelah dalam jiwa selalu ada pengakuan akan kebesaran dan kemurahan Allah SWT yang telah memberi nikmat disertai rasa gembira dan senang hati, giliran ekspresi lisan. Ekspresi tulus dari seorang hamba karena luapan kegembiraan yang didasari pengakuan dari makrifatnya.

Ekspresi lisan adalah memuji dan mengucapkan Al-Hamdulillah. Dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiallohu ‘anhu, berkata Rasululloh Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Allah Subhanahu Wata’ala tidak memberikan suatu kenikmatan kepada seorang hamba, maka dia memuji Allah atas kenikmatan yang diberikan kepadanya kecuali pujian itu lebih afdhal daripada kenikmatan itu.” (Dihasankan Syaikh Albani di Ash-Shohih Al-Jami’ no.  5562)

Allah berfirman : Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu ceritakan”  (Ad-Duhaa: 11)

Bersyukur dengan lisan berarti juga berdzikir (mengingat Allah), dan kita memohon agar diberi kekuatan untuk berdzikir. Firman Allah SWT:  “Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (Qs. Al Baqarah [2]: 152)


:: BERSYUKUR DENGAN TINDAKAN ::

Belum dianggap bersyukur (berterimakasih) kepada Allah SWT jika belum diungkapkan dengan tindakan atau perbuatan yang sesuai dengan kehendak si Pemberi nikmat. Tindakan tersebut adalah Ibadah. Allah tidak menciptakan kita melainkan agar kita mengabdi / ibadah kepada Allah (QS 51/56), oleh karena itu, Allah juga memberi karunia nikmat agar dengan nikmat itu manusia mampu dan sanggup menunaikan pengabdian / Ibadah kepadaNya

Allah menyebutkan bahwa para nabi adalah hamba-hamba Allah yang paling bersyukur dengan melaksanakan puncak ketaatan dan pengorbanan. Dan contoh-contoh tersebut sangat tampak pada lima rasul utama: Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan Nabi Muhammad saw. Allah swt. menyebutkan tentang Nuh a.s. “Sesungguhnya dia (Nuh a.s.) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (Al-Israa: 3)

Dan lihatlah bagaimana Aisyah r.a. menceritakan tentang pengabdian / ibadah Rasulullah saw. Suatu saat Rasulullah saw. melakukan shalat malam sehingga kakinya terpecah-pecah. Berkata Aisyah r.a., ”Engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang.” Berkata Rasulullah saw., “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?“ (Muslim)

Ooo

Mohonlah kepada Allah agar diberi kekuatan untuk berdzikir, bersyukur dan baiknya beribadah.
»»  SELENGKAPNYA...

Selasa, 14 Februari 2012

:: Apakah Iman-mu Yang Menjawab ? || waiman cakrabuana

Sudah menjadi rumusan baku bahwa setiap orang yang beriman kepada Allah SWT pasti akan diuji dengan berbagai ujian. Ujian itu akan terus berlangsung hingga teruji dan terbukti mana “Emas” mana “loyang”. Mana yang “benar-benar beriman” dan mana yang hanya “dusta” saja pernyataan “Imannya”. 



Ternyata memang banyak yang terhempas diterpa badai musibah, bahkan hingga menghempaskan Iman-nya, dan mulai menikmati penyimpangannya. Tak kuat memegang keimanan disaat-saat penuh krisis dan derita.

[29:2] Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
[29:3] Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Rupanya mereka yang terhempas dalam kubangan penyimpangan tersebut “Keimanannya” tidak sampai kedalam hati hanya gumpalan teori dari mulutnya saja. Terbukti ketika musibah datang, yang menjawab bukan “Iman” dalam hatinya tapi mulutnya yang pandai bersilat dan berkilah.

[49:14] Orang-orang arab badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (AL HUJURAAT  ayat 14)

Saudaraku!
Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 214, Allah SWT akan menguji keimanan seseorang dengan tiga ujian, yaitu:
1. Penderitaan -> (pisik)
2. Kemelaratan -> (ekonomi)
3. Goncangan -> (psikologis)

[2:214] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.


Secara kausalitas, ketiga derita tadi bisa datang sebagai kesalahan atau kecerobohan diri tetapi bisa juga sebagai rencana atau makar musuh Islam yang hendak memadamkan cahaya Allah SWT.

[8:30] Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

Tetapi berbahagialah saudaraku!, sebab berbagai ujian itu akan menghantarkan kita ke surga-Nya. Itu semua jika kita sanggup menjawab ujian itu dengan keimanan.

Sungguh, jika derita yang datang sebagai wujud ujian dari Allah ini kita jawab dengan "Keimanan", maka hasilnya akan melahirkan mukmin bermental prima yang menyandang "KESABARAN". Sabar itu adalah kekuatan jiwa yang nampak dari tetapnya ia dalam jalan Fisabilillah bderjuang dan berkarya. Tidak menyerah karena kasus, masalah dan segala kenyataan pahit.


[3:146] Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.

Tetapi sebaliknya, jika dihadapi bukan dengan Iman, tapi dengan perasaan, maka akan menghempaskan dia di jalan Allah. Merasa beban yang tak kuat ia pikul. Mundur teratur dari barisan hamba Allah yang berjuang demi tegaknya Islam. Patah semangat dan putus asa. Naudzubillah.
»»  SELENGKAPNYA...