Sabtu, 04 Februari 2012

:: Prasangka Yang Meragukan || waiman cakrabuana

Suatu hari seorang tua yang bijak membawa anaknya jalan jalan. Perbekalan sudah disiapkan dan kendaraan berupa seekor keledai juga telah didandani sebagai kendaraan tunggangan. Keledai itu tidak terlalu besar dan teramat kecil untuk ditunggangi dua orang.

Sampailah disatu kampung, namun tiba tiba penduduk kampung  pada mencemooh Orang Tua Bijak dan anaknya. Mereka didesa itu berkata: “Sungguh tidak berperasaan  kedua orang ini, tega teganya keledai kecil mereka tunggangi berdua”

Ooo

Demi mendengar hal itu, Orang tua Bijak yang memiliki Nama Luqmanul Hakim kemudian turun dan menuntun keledai. Masuklah mereka berdua ke suatu kampung berikutnya. Penduduk kampung pada mencela penunggang kuda, diantara mereka terdengar berkata: “alangkah kurang ajarnya sia anak itu”, umpat mereka, samar terdengar. “masa dia enek-enakan naik keledai sementara ayahnya sendiri dibiarkan berjalan menuntun keledai

Kini giliran si anak yang merasa gerah dicela dan dihujat penduduk kampung. Si anak kemudian mempersilahkan ayahnya (Lukmanul Hakim) untuk menunggangi keledai  dan ia akan berjalan menuntun keledai. Pertukaran posisi itu diminta si anak agar terbebas dari hujatan manusia.

Di kampung ketiga yang ia singgahi  ternyata sama saja mereka pada mengumpat si Ayah. “Dasar Orang Tua kejam, tega membiarkan anaknya berkeringat dan kelelahan berjalan menuntun keledai, sementara Orang Tuanya malah menikmati perjalanan dengan menunggangi keledai

Si anak mulai gerah dengan segala komentar-komentar manusia yang dia jumpai disepanjang perjalanan, sehingga akhirnya mereka (Lukman dan anaknya) sepakat untuk tidak menunggangi keledai tetapi menuntunnya bersama-sama. Alangkah tidak disangka oleh si anak,  ternyata diperjalanan mereka ditertawai oleh setiap yang dijumpai mereka. “Huh dasar orang bodoh, buat apa keledai itu dituntun, bukankah keledai itu binatang tunggangan” , demikian sebagaian umpatan penduduk kampung yang terdengar langsung oleh telinga si anak.

Akhirnya si anak menemukan ide gila, ia meminta agar keledai ini di panggul saja berdua, agar sepi dari komentar dan umpatan manusia. Tentusaja semakin keras saja komentar orang orang. Mereka  memandang kedua orang ini sudah gila,  karena bukannya ditunggangi keledai itu, malah dipanggul.

Ooo

Lukmanul Hakim telah memberi pelajaran bagi anaknya melalui rekreasi ruhani sebenarnya.

Bahwa prasangka manusia tidaklah akan sampai pada kebenaran sedikitpun. Dan bahwa hidup manusia tidak akan tentram jika terus menerus menginginkan respon baik dari sesama atau terus menerus menghindar dari komentar jelek manusia. Satu saja yang harus diikuti yatu WAHYU ALLAH. Bertindaklah lurus sesuai tuntunan wahyu Allah dan jangan ikuti prasangka manusia dengan itu hidupmu PASTI dan TENTRAM. Dan pasti apapun yang dilakukan manusia apakah itu adalah tindakan yang benar ataupun yang salah selalu saja ada yang berkomentar.

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan (QS 10/36)

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS 6/116)

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS 2/147)
»»  SELENGKAPNYA...

Kamis, 02 Februari 2012

:: Merasa Berjasa || waiman cakrabuana

jangan terjebak
oleh perasaan MERASA BERJASA

karena perasaan itu selalu melahirkan tuntutan... tuntutan ingin dihargai ... jika itu berkembang biak... akan tumbuh selalu "ingin dilihat atau didengar" (diakui oleh manusia) jasa jasa baiknya dalam bahasa lain itulah namanya RIYA .... Rasulullah katakan bahwa ini adalah syirik khafi atau perilaku syirik yang laten, tidak kentara bahkan seringkali tidak terasa... ibarat semut hitam yang berjalan dimalam gelap diatas batu hitam... Bahaya laten

kadang terlihat ketika sepi penghargaan terhadap karya kita .... ada rasa sakit hati,,,,

Merasa dibuang ke tempat sampah tatkala dipindah tugas tugas risalahnya ke pos lain... dalam hatinya menagih : "mana penghargaan bagi saya atas karya yang sudah saya lakukan dengan kerja keras .... kenapa saya dibuang?"

tidak tegas memang, tetapi samar samar ada logika jika saya telah berbuat baik... hargai dong... kalungkan kalungan bunga tanda jasa... sematkan didada bintang tanda jasa.
duh diri seharusnya diri ini seperti perkataan mulia para anbiya Allah:

وما أسألكم عليه من أجر إن أجري إلا على رب العالمين

"aku tidak mengharap penghargaan dari kalian
atas Tugas risalah yang ku Emban
Aku hanya berharap besar
mendapat penghargaan dari Rabbul Aalamin"
(26/109)

Jadilah seperti Khalid yang dicopot tugas sebagai Panglima Tentara Islam Khilafah Islam menjadi prajurit biasa oleh Umar Bin Khatab.... bukan karena cacat yang dilakukan Khalid... tetapi karena Khalid hampir tidak bercacat....

Khalid tidak menagih penghargaan kepada Umar.... kenapa saya dicopot dari jabatan panglima... padahal sudah banyak peperangan yang dimenangkan khalid... tidak tidak ada perasaan itu pada diri khalid
»»  SELENGKAPNYA...

Selasa, 31 Januari 2012

>> Orang Tua dalam Kenangan || waiman cakrabuana

jika bisikan ditelinga semakin sayup terdengar... maka siapkanlah bisingnya teriakan orang tuamu...

gurat renta di mukanya semakin terlihat... apakah nampak juga peta diwajahnya yang memandu jalan untuk tampilnya generasi pelanjut dan pewaris semangatnya????


duhai generasi pelanjut!

apakah teriakannya akan kau anggap sebagai bisikan 'si tua' yang penuh harap??? dan jika teriakannya menjadi sayup terdengar, maka mungkin air matanya yang akan mengalir membasahi gurat wajahnya.

tapi entahlah, jika air matanya juga tidak menjadi bahasa, maka mungkin kau anggap seperti sandiwara di telenovela saja.


apakah kisah perjuangannya memikul beban bertahun tahun, untuk membimbingmu hingga dewasa, akan kau anggap sebagai kebetulan tanpa arti???


bukankah sudah tiba waktunya, kita menjadi generasi pelanjut, yang membahagiakannya?,

membuat karya yang membuatnya tersenyum, karena cita citanya diperjuangkan anak-anaknya.

sudahlah berhenti bermain-main... engkau telah dewasa sementara orangtuamu mengharapkanmu untuk memainkan Peranmu.


berhentilah bertengkar karena berebut mainan,... ada permainan yang lebih menantang


adakah kau sadar generasi!

maukah kau menjadi generasi penerus dan pewaris semangatnya,,, atau menjadi generasi pecundang????
»»  SELENGKAPNYA...

Minggu, 29 Januari 2012

>> Menari dibuaian Irama Taqdir || waiman cakrabuana

Rabb!... 
kucoba selalu merambahi Jalan keyakinanku… 
untuk bercengkrama dengan wibawa taqdirMu… 
ku sedang belajar menari dalam alunan irama taqdirMu…
walau kadang isi kepalaku
tak sampai mampu memecahkan
misteri dibalik realitas yang Kau
hadirkan…

Rabb… 
sungguh ku ingin mengalir seperti air… 
yang tanpa beban menjalani
segala taqdir pemberianMU… 
terus mengalir menuju muara samudra
RidhaMU

Rabb… 
hambaMu sedang belajar
Bagaimana menikmati perihnya Kenyataan… 
agar dapat berterima kasih
kepadaMu sepanjang hayatku

tolong dan bantulah hamba Ya Rabb

sudut malam dipenghujung perguliran
»»  SELENGKAPNYA...

Sabtu, 28 Januari 2012

>> Terbang || waiman cakrabuana

pagi....
yang ditemani dingin
dan berselimut semilir angin...

mari bergabung dengan sepoi angin
walau agak dingin
tetapi sungguh membuat ringan

membawa jiwa perlahan terbang
agak menjauh dari pusat daya tarik bumi
melepas ketertarikan diri yang terlalu
pada dunia semu
biarkan kakimu menapaki tanah ini
menikmati daya tarik dunia seperlunya
seperlunya saja ....  kawan
karena memang tubuhmu berasal dari tanah ini

tetapi jangan kau kerangkeng jiwamu
yang ingin mengangkasa menuju asalnya
mereguk kenikmatan jalan pengabdian
menghampiri Rabb-Nya
mempersembahkan pujian dan sanjungan
disanalah jiwamu mengalami kebahagiaan
yang tak pernah dimengerti tubuhmu
hanya tubuh yang dibanting banting
dijalan perjuangan para anbiya
dipaksa berjalan panjang
menapak tilasi sejarah para Rasul
hanya tubuh yang seperti itulah
yang akan menikmati rekreasi jiwa
yang sedang mengangkasa
sambil memuja memuji Rabb-Nya

sungguh inilah jalan kenikmatan
yang dirasakan para kekasih Tuhan
Nabiyyin, shiddiqin, syuhada dan shalihin

»»  SELENGKAPNYA...